RSS Feed

GIGI TIRUAN SEBAGIAN LENGKAP (FULL DENTURE)

Posted by drg. Asnul Arfani Labels:

Gigi tiruan merupakan protesa yang dibuat untuk menggantikan gigi yang hilang, dan didukung oleh jaringan pendukung baik lunak maupun keras dalam rongga mulut. Pada pasien yang kehilangan gigi, pemakaian gigi tiruan dapat membantu proses mastikasi (pengunyahan), estetika, dan fonasi, serta mempertahankan keadaan jaringan rongga mulut.

 Gambar 1, Full Denture
Gigi tiruan lengkap (Full Denture) adalah alat yang menggantikan seluruh gigi baik pada rahang atas maupun rahang bawah.
 Seseorang yang telah kehilangan gigi-giginya maka akan mengalami gejala-gejala sebagai berikut :
  • Terganggunya fungsi pengunyahan
  • Terganggunya fungsi bicara
  • Terganggunya fungsi estetis
  • Kesehatan jaringan lunak mulut terganggu
  • Keadaan psikis terpengaruh
 Gambar 2, Gigi tiruan pada rahang atas dan rahang bawah
    GTL perlu digunakan untuk mencegah pengkerutan tulang alveolar, berkurangnya vetikal dimensi disebabkan turunnya otot-otot pipi karena tidak adanya penyangga, dan hilangnya oklusi sentrik.
    Pada orang yang kehilangan seluruh giginya, vertikal dimensi oklusi alami akan hilang dan mulut cendurung overclosure. Hal ini akan menyebabkan pipi berkerut dan masuk ke dalam serta membentuk commisure. Selain itu, lidah sebagai kumpulan otot yang sangat dinamis karena hilangnya gigi akan mengisi ruang selebar mungkin sehingga lidah akan membesar dan nantinya dapat menyulitkan proses pembuatan gigi tiruan lengkap. Selama berfungsi rahang bawah berusaha berkontak dengan rahang atas sehingga dengan tidak adanya gigi-gigi rahang atas dan rahang bawah akan menyebabkan hilangnya oklusi sentrik sehingga mandibula menjadi protrusi dan hal ini menyebabkan malposisi temporo-mandibular joint.

    Indikasi pembuatan GTL adalah sebagai berikut :
    1. Individu yang seluruh giginya telah tanggal atau dicabut.
    2. Individu yang masih punya beberapa gigi yang harus dicabut karena kerusakan gigi yang masih ada tidak mungkin diperbaiki.
    3. Bila dibuatkan GTS gigi yang masih ada akan mengganggu keberhasilannya.
    4. Keadaan umum dan kondisi mulut pasien sehat.
    5. Ada persetujuan mengenai waktu, biaya dan prognosis yang akan diperoleh. 
     Gambar 3. Endentulous (daerah tak begigi)
      Keberhasilan pembuatan GTL tergantung dari retensi yang dapat menimbulkan efek psikologis dan dukungan jaringan sekitarnya, sehingga dapat mempertahankan keadaan jaringan normal. Hal ini mencakup :
      1. Kondisi edentulous (tidak begigi) berupa : processus alveolaris, saliva, batas mukosa bergerak dan tidak bergerak, kompesibilitas jaringan mukosa, bentuk dan gerakan otot-otot muka, bentuk dan gerakan lidah.
      2. Ukuran, warna, bentuk gigi dan gusi yang cocok
      3. Sifat dan material yang hampir sama dengan kondisi mulut
      4. Penetapan atau pengaturan gigi yang benar, meliputi :
      • Posisi dan bentuk lengkung deretan gigi
      • Posisi individual gigi
      • Relasi gigi dalam satu lengkung dan antara gigi-gigi rahang atas dan rahang bawah.
      Perawatan pada pengguna GTL dapat dikatakan berhasil apabila :
      • Enak dipakai, nyaman dan menyenangkan
      • Dapat mengembalikan fungsi bicara, pengunyahan dan estetis
      • Dapat memelihara keadaan jaringan mulut.
      Faktor retensi dan stabilisasi adalah faktor yang penting dalam keberhasilan gigi tiruan lengkap. Faktor-faktor yang mempengaruhi retensi GTL:
      1. Faktor fisis: Peripherial seal, efektifitas peripherial seal sangat mempengaruhi efek retensi dari tekanan atmosfer. Posisi terbaik peripherial seal adalah di sekeliling tepi gigi tiruan yaitu pada permukaan bukal gigi tiruan atas, pada permukaan bukal gigi tiruan bawah.Peripherial seal bersambung dengan Postdam pada rahang atas menjadi sirkular seal. Sirkular seal ini berfungsi membendung agar udara dari luar tidak dapat masuk ke dalam basis gigi tiruan (fitting surface) dan mukosa sehingga tekanan atmosfer di dalamnya tetap terjaga. Apabila pada sirkular seal terdapat kebocoran (seal tidak utuh/terputus) maka protesa akan mudah lepas. Hal inilah yang harus dihindari dan menjadi penyebab utama terjadinya kegagalan dalam pembuatan protesa gigi tiruan lengkap.Postdam, diletakkan tepat disebelah anterior garis getar dari palatum molle dekat fovea palatina.
      2. Adaptasi yang baik antara gigi tiruan dengan mukosa mulut. Ketepatan kontak antara basis gigi tiruan dengan mukosa mulut, tergantung dari efektivitas gaya-gaya fisik dari adhesi dan kohesi, yang bersama-sama dikenal sebagai adhesi selektif.
      3. Perluasan basis gigi tiruan yang menempel pada mukosa (fitting surface). Retensi gigi tiruan berbanding langsung dengan luas daerah yang ditutupi oleh basis gigi tiruan.
      4. Residual Ridge, karena disini tidak ada lagi gigi yang dapat dipakai sebagai pegangan terutama pada rahang atas.
      5. Faktor kompresibilitas jaringan lunak dan tulang di bawahnya untuk menghindari rasa sakit dan terlepasnya gigi tiruan saat berfungsi
      Pemasangan gigi geligi yang penting terutama untuk gigi anterior (depan) karena harus mengingat estetis (ukuran, bentuk, warna) walaupun tidak kalah pentingnya untuk pemasangan gigi posterior (belakang) yang tidak harus sama ukurannya dengan gigi asli, tetapi lebih kecil, untuk mengurangi permukaan pengunyahan supaya tekanan pada waktu penguyahan tidak memberatkan jaringan pendukung.
      Untuk pemasangan gigi yang harus diperhatikan adalah personality expression, umur, jenis kelamin yang mana nantinya akan berpengaruh dalam pemilihan ukuran, warna dan kontur gigi.
      Disamping itu juga perlu diperhatikan keberadaan over bite, over jet, curve von spee, curve monson, agar diperoleh suatu keadaan yang diharapkan pada pembuatan gigi tiruan lengkap.

      SPLINT

      Posted by drg. Asnul Arfani Labels:

      Penyakit periodontal merupakan penyakit inflamasi pada jaringan pendukung gigi yang disebabkan oleh mikroorganisme spesifik, menyebabkan kerusakan yang progresif dari ligament periodontal. Penyakit ini sering diikuti dengan pembentukan poket periodontal dan perubahan kepadatan dan ketinggian tulang alveolar (tulang pendukung gigi) di bawah poket. Resorpsi tulang alveolar dan kerusakan ligamen periodontal merupakan tanda paling penting dalam terjadinya periodontitis kronis, dan hal ini dapat menyebabkan terjadinya mobilitas atau kegoyahan gigi yang pada akhirnya akan menyebabkan lepasnya gigi tersebut.


      Beberapa upaya dapat dilakukan untuk mengatasi penyakit periodontal, misalnya dengan melakukan kuretase yaitu dengan mengambil jaringan lunak pada dinding dalam poket yang mengalami inflamasi, maupun dengan melakukan operasi pembedahan gusi atau biasa disebut gingivektomi. Pada kasus penyakit periodontal yang diikuti dengan terjadinya mobilitas gigi, sebelum dilakukan perawatan perlu digunakan alat untuk mengikat dan menambah stabilitas gigi agar gigi tersebut tidak lepas selama dilakukan perawatan. Alat yang digunakan untuk mengikat dan menstabilkan gigi tersebut disebut dengan splint

      Splint merupakan alat stabilisasi dan immobilisasi gigi yang goyah karena suatu lesi atau trauma atau penyakit periodontal. Splint digunakan untuk menggabungkan beberapa gigi untuk membentuk suatu dukungan. Prinsip dari pembuatan splint ini yaitu dengan mengikat beberapa gigi menjadi satu kesatuan sehingga tekanan dapat didistribusikan ke semua gigi yang diikat. Splint dapat berupa alat yang dapat dilepas, cekat, atau kombinasi keduanya. Splint dapat digunakan secara temporer maupun permanen tergantung dari material yang digunakan juga lama penyembuhan penyakit periodontalnya. 

      Penyebab penyakit periodontal diklasifikasikan menjadi dua menurut asalnya, yaitu faktor lokal dan sistemik.

                Faktor lokal
      • Faktor iritasiFaktor iritasi terdiri faktor inisial yang berupa plak gigi. Bakteri plak yang menumpuk menyebabkan jaringan periodontal mengalami inflamasi (peradangan). Selain plak, faktor lokal yang menyebabkan penyakit periodontal berupa faktor predisposisi, misalnya berasal dari tambalan gigi yang tidak sesuai, kesalahan alat prostodonsi ( gigi palsu)gigi maupun kesalahan pada perawatan ortodonsi (perawatan kawat gigi).
      • Faktor fungsionalFaktor fungsional terdiri dari bruxism atau kerot, clenching dan tapping dimana gerakan oklusal yang dilakukan akan merusak ligamen periodontal dan tulang alveolar.

        Faktor sistemik

        Faktor sistemik adalah suatu kondisi tubuh yang dapat mempengaruhi jaringan periodontal. Faktor sistemik penyebab penyakit biasanya didahului oleh adanya faktor lokal. Faktor sistemik dapat menyebabkan rendahnya resistensi jaringan periodontal sehingga mudah terpengaruh efek dari faktor lokal. Resistensi yang rendah berakibat pada munculnya gangguan atau kerusakan fungsi dan struktur dari komponen jaringan periodontal. Faktor sistemik yang mempengaruhi jaringan periodontal contohnya endokrin (hormonal), malnutrisi, obat-obatan, psikologis, keturunan (genetik), penyakit metabolisme, penyakit dan gangguan hematologis, pengaruh logam dan penyakit kronis.
      Perawatan penyakit periodontal merupakan suatu perawatan yang dilakukan pada jaringan periodontal patologis maupun non-patologis baik secara bedah maupun non-bedah dengan tujuan agar secara fisiologis dan anatomis mendapatkan jaringan yang sehat secara optimal. Perubahan patologis dapat berupa inflamasi misalnya gingivitis maupun periodontitis, sedangkan non-patologis berupa resesi gingiva, frenulum tinggi, vestibulum dangkal, dan keadaan gigi yang abnormal.
      Splint merupakan suatu alat yang dibuat untuk menstabilkan atau mengencangkan gigi-gigi yang goyah akibat suatu penyakit. Pada perawatan penyakit periodontal, splint digunakan pada keadaan kegoyahan gigi akibat terjadinya kerusakan tulang alveolar. Bila kegoyahan gigi tidak mengganggu fungsi pengunyahan dan kenyamanan penderita serta didapati gambaran ligamen periodontal yang normal, maka gigi tersebut tidak memerlukan splint.
      Kegoyahan gigi dapat terjadi pada jaringan periodonsium yang sehat, yaitu bila terjadi pelebaran ligamen periodontal dan berkurangnya tinggi tulang alveolar. Keadaan ini dianggap sebagai kegoyahan fisiologis. Kegoyahan fisiologis dapat juga dikurangi dengan pemasangan splint dan melakukan penyesuaian oklusi
      Splinting dapat dijadikan perawatan pendukung yang dilakukan bersamaan dengan perawatan periodontal lainnya, dapat juga sebagai fase pertama perawatan periodontal sebelum tindakan bedah dilakukan. Splint periodontal dapat bersifat temporer ataupun permanen. Bentuk splint dapat berupa alat cekat atau lepasan, dan dapat diletakkan ekstrakoronal maupun intrakoronal. Splint permanen antara lain berupa fixed bridge, protesa sebagian lepasan, atau penggabungan bahan tambalan resin komposit.

      Splint permanen diindikasikan jika perawatan periodontal tidak mengurangi mobilitas gigi, sehingga gigi tidak dapat berfungsi baik tanpa dukungan tambahan. Splint permanen berfungsi untuk menstabilkan gigi, mendistribusikan kekuatan oklusi, mengurangi trauma, dan membantu dalam perbaikan jaringan periodontal. Splint permanen dipasang untuk memperpanjang fungsi gigi dalam mulut lebih lama.

      Splint permanen dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
      1. Lepasan-eksternal
      2. Continuous claps device, Swing-look device, Overdenture (full atau partial)
      3. Cekat-internal
      4. Full coverage, ¾ coverage crowns dan inlay, Post in root canal , Horizontal pin splints
      5. Cast-metal resin bonded fixed partial denture (maryland splint)
      6. Kombinasi
      7. Partial denture and splint abuntments, Removable-fix splint, Full or partial denture or splinted root, Fixed bridges incorporated in partial denture, sealed on post or copings
      8. Endodontik

      Berikut ini merupakan beberapa contoh splint :

      1. Splint Lepasan Eksternal
      Splint lepasan permanen dalam hal ini adalah splint continuous clasp dapat mengikat gigi yang goyah. Alat ini mirip dengan gigi tiruan lepasan sebagian. Splint ini memberikan dukungan pada gigi dari permukaan lingual dan dimungkinkan adanya tambahan dukungan dari permukaan labial atau dengan menggunakan landasan intrakoronal. Palatal bar juga mungkin ditambahkan untuk mendukung efek splintingnya. Beberapa gigi tiruan menggunakan pin yang ditancapkan dalam cekungan atau lubang pada inlay.
      2. Cast Metal Resin Bonded Fixed Partial Denture
      Cast metal resin bonded fixed partial denture digunakan dengan mengurangi sedikit lapisan email. Tipe ini merupakan jenis protesa yang fungsional, estetis, reversibel, dan murah. Protesa ini terdiri dari kerangka logam yang dilapisi dengan resin yang menempel pada email gigi. Ikatan email sangat kuat, meskipun demikian gigi yang goyah bila mendapat tekanan oklusal yang sangat kuat maka dapat lepas dari kerangka logamnya.
      3. Splint Cekat Internal
      Alat permanen cekat dapat dibuat dengan logam yang disolder, seperti mahkota penuh, mahkota 3/4 , inlay, splint pin horizontal, dan pin ledge. Splint kemudian disementasi pada tempatnya. Mahkota penuh merupakan alat yang paling mudah jika resesi tidak bertambah dan gigi dibuat sejajar. Splint jenis ini bentuknya kaku dan ukuran splint harus sesuai dengan diameter bukolingual. Sambungan interproksimal jangan sampai mengenai papila interdental, dan hubungan oklusalnya harus harmonis. Splint cekat merupakan suatu restorasi yang paling efektif untuk stabilisasi gigi.
      4. Splint Kombinasi
      Meskipun splint cekat banyak keuntungannya, tetapi terdapat kelemahan dari segi periodontal, sehingga kombinasi dari splint cekat dan partial denture merupakan pilihan yang tepat. Gigi tiruan sebagian menggunakan gigi pegangan yang merupakan splint yang paling baik dan dapat dikerjakan dengan mudah dengan klamer dan sandaran sehingga stabilisasi dapat tercipta ke segala arah. Gigi tiruan dapat didukung oleh mahkota gigi atau pasak logam yang ditanam ke dalam akar gigi.

      Berikut ini merupakan jalannya Perawatan splint eksternal fiber-reinforced composite resin pada gigi anterior:

      Membersihkan gigi yang akan displint dengan scaler ultrasonik kemudian menyikat dengan brush dan pumice.

      Setelah gigi bebas dari deposit kemudian dikeringkan dengan semprotan udara dan meletakkan kapas disekitar gigi yang akan displint agar tetap bebas dari saliva.

       Mengaplikasikan etsa pada bagian palatal atau lingual di bawah 1/3 incisal gigi selama 5 menit, kemudian dibilas dengan semprotan air lalu mengeringkan dengan semprotan udara.



      Mengaplikasikan bonding pada area yang telah dietsa, kemudian melakukan penyinaran dengan light curing unit selama 10 detik.



      Mengaplikasikan net fiber pada area gigi yang telah dibonding (termasuk area interdental), kemudian melakukan penyinaran selama 10 detik.

        
      Mengaplikasikan resin komposit diatas net fiber agar splint melekat lebih kuat, kemudian melakukan penyinaran selama 20 detik.

        
      Melakukan finishing dan polishing pada resin komposit dengan bur finishing.
        
      Mengecek adanya traumatik oklusi. Menyarankan pasien untuk menjaga kebersihan mulutnya dan kontrol 1 minggu kemudian.
        Setelah dilakukan splinting pasien diinstruksikan untuk lebih memperhatikan kebersihan gigi dan mulutnya, terutama pada regio gigi yang displinting, karena pada regio tersebut lebih mudah terjadi akumulasi plak dan debris yang akan menyebabkan inflamasi kronis yang terjadi dapat semakin parah.

        PERKEMBANGAN DAN PERTUMBUHAN GIGI GELIGI

        Posted by drg. Asnul Arfani Labels:

        Mempelajari ilmu perkembangan gigi geligi pada manusia terutama gigi anak merupakan salah satu hal penting yang harus dipelajari oleh siapa saja terutama dokter gigi. Karena ilmu ini dapat menentukan kesehatan gigi dan mulut secara keseluruhan.
        Bila pada anak, pentingnya perkembangan gigi geligi secara psikologis yaitu dari fungsi gigi dan keberadaan gigi geligi. Karena hal ini dapat mempengaruhi emosi, keseimbangan tubuh, sebagai isyarat kedewasaan dari anak, penampilan, dan pengucapan.
        Pertumbuhan gigi dimulai sejak 3 bulan setelah lahir sampai dengan usia 21-25 tahun, dan normalnya gigi anak sudah berkontak (oklusi) penuh pada saat usia 3 tahun. Terdapat beberapa tahapan pada pertumbuhan gigi geligi manusia, yaitu :
        • Periode gigi anak (deciduous dentition ) : Periode ini dimulai dari 6 bulan sampai 7 tahun
        • Periode gigi bercampur (mix dentition) : Periode ini dimulai dari 7 tahun sampai 12 tahun
        • Periode gigi dewasa (permanent dentition) : Periode ini dimulai dari 12 tahun ke atas
          Ciri-ciri tipikal dari kontak (oklusi) yang ideal pada saat gigi susu (decidui) tumbuh seluruhnya adalah :
          • Gigi-gigi incisivus (gigi seri) yang renggang
          • Posisi vertikal dari gigi-gigi incisivus (gigi seri), incisivus bawah menyentuh cingulum incisivus atas
          • Permukaan distal gigi-gigi molar kedua atas dan bawah berada pada bidang vertikal yang sama
          Urutan tumbuhnya (erupsi) gigi pada periode gigi bercampur dimulai dari :
          1. Gigi molar 1 (geraham belakang) kanan dan kiri bawah, tumbuh (erupsi) pada usia 6,05 tahun
          2. Gigi molar 1 (geraham belakang) kanan dan kiri atas, tumbuh (erupsi) pada usia 6,3 tahun
          3. Gigi incisivus 1 (seri) kanan dan kiri bawah, tumbuh (erupsi) pada usia 6,4 tahun
          4. Gigi inciivus 1 (seri) kanan dan kiri atas, tumbuh (erupsi) pada usia 7,35 tahun
          5. Gigi incisivus 2 (seri lateral) kanan dan kiri bawah, tumbuh (erupsi) pada usia 7,5 tahun
          6. Gigi incisivus 2 (seri lateral) kanan dan kiri atas, tumbuh (erupsi) pada usia 8,45 tahun
          7. Gigi premolar 1 (geraham kecil) kanan dan kiri atas, tumbuh (erupsi) pada usia 10,20 tahun
          8. Gigi caninus (taring) kana dan kiri bawah, tumbuh (erupsi) pada usia 10,35 tahun
          9. Gigi premolar 1 (geraham kecil) kanan dan kiri bawah, tumbuh (erupsi) pada usia 10,50 tahun
          10. Gigi premolar 2 (geraham kecil) kanan dan kiri atas, tumbuh (erupsi) pada usia 11,05 tahun
          11. Gigi premolar 2 (geraham kecil) kanan dan kiri bawah, tumbuh (erupsi) pada usia 11,20 tahun
          12. Gigi caninus (taring) kanan dan kiri atas, tumbuh (erupsi) pada usia 11,35 tahun
          13. Gigi molar 2 (geraham belakang kedua) kanan dan kiri bawah, tumbuh (erupsi) pada usia 11,90 tahun
          14. Gigi molar 2 (geraham belakang kedua) kanan dan kiri atas, tumbuh (erupsi) pada usia 12,25 tahun
          15. Gigi molar 3 (geraham paling belakang) kanan kiri dan atas bawah, tumbuh (erupsi) pada usia 17-21 tahun


          Pada periode ini diharapkan para dokter gigi maupun orang tua menguasai ilmu tentang waktu pertumbuhan gigi pada anak. Karena pada periode ini sangatlah penting untuk menentukan oklusi (gigitan), posisi, maupun relasi dari gigi permanen (dewasa). Bila gigi anak belum waktunya hilang atau tanggal ini disebut sebagai premature loss, hal ini akan mengakibatkan hilangnya panduan arah tumbuh gigi permanen (dewasa) dan mengecilnya ruang yang akan ditempati gigi permanen (dewasa). Bila gigi anak sudah waktunya tanggal (hilang) tetapi masih tetap ada disertai dengan kegoyahan maupun tidak, ini disebut sebagai prolong retensi. Hal ini akan mengakibatkan persundulan atau terhalangnya gigi permanen (dewasa) untuk tumbuh (erupsi), mengakibatkan gigi dewasa yang malposisi (tidak teratur). Bila hal ini terjadi maka harus dilakukan pencabutan pada gigi susu (decidui) segera pada keadaan goyah maupun tidak.

          Perawatan gigi anak dan dewasa sangatlah berbeda. Seorang anak berkunjung ke dokter gigi perlu dihantar oleh orang tuanya. Orang tua hendaknya membujuk, menghilangkan bayangan negatif dan meyakinkan anak agar mau berkunjung ke dokter gigi. Setelah masuk dalam ruang praktek, anak bisa dilepas sendiri bersama dengan dokter giginya. Hal ini bertujuan agar berlatih dengan sendirinya untuk menyesuaikan diri dan kenal dokter giginya.


            PHLEGMON

            Posted by drg. Asnul Arfani Labels:

            Rongga mulut merupakan tempat hidup bakteri aerob dan anaerob yang berjumlah lebih dari 400 ribu spesies bakteri. Perbandingan antara bakteri aerob dengan anaerob adalah 10:1 sampai 100:1. Organisme-organisme ini merupakan flora normal dalam mulut yang terdapat dalam plak gigi, cairan sulkus ginggiva, mucous membrane, dorsum lidah, saliva, dan mukosa mulut. Infeksi odontogen dapat menyebar secara perkontinuitatum hematogen dan limfogen, seperti periodontitis apikalis yang berasal dari gigi yang nekrosis. infeksi gigi dapat terjadi melalui berbagai jalan yaitu lewat penghantaran yang endogenus dan melalui masuknya bakteri ke dalam pulpa gigi yang vital dan steril. 
            Berdasarkan tipe infeksinya, infeksi odontogen dapat dibagi menjadi :
            1. Infeksi odontogen lokal / terlokalisir : Abses periodontal akut, periimplantitis
            2. Infeksi odontogen luas / menyebar  : early cellulitis, deep space infection
            3. Life threatening : Facilitis dan Ludwig's angina
            Salah satu infeksi odotogenik yang sering terjadi adalah Phlegmon. Phlegmon atau Ludwig's angina adalah suatu penyakit kegawatdaruratan, yaitu terjadinya penyebaran infeksi secara difus progresif dengan cepat yang menyebabkan timbulnya infeksi dan tumpukan nanah pada daerah rahang bawah kanan dan kiri (submandibula) dan dagu (submental) serta bawah lidah (sublingual), yang dapat berlanjut menyebabkan gangguan jalan nafas dengan gejala berupa  perasaan tercekik dan sulit untuk bernafas secara cepat (mirip dengan pada saat terjadinya serangan jantung yang biasa dikenal dengan angina pectoris). Sedangkan Ludwig's angina sendiri berasal dari nama seorang ahli bedah Jerman yaitu Wilhem Von Ludwig yang pertama melaporkan kasus tersebut. 
            Phlegmon adalah infeksi akut yang disebabkan oleh kuman Streptokokus yang menginfeksi lapisan dalam dasar mulut yang ditandai dengan pembengkakan yang dapat menutup saluran nafas. Phlegmon berawal dari infeksi pada gigi (odontogenik), 90% kasus diakibatkan oleh odontogenik, dan 95% kasus melibatkan submandibula bilateral dan gangguan jalan nafas merupakan komplikasi yang berbahaya dan seringkali merenggut nyawa. Angka kematian sebelum dikenalnya antibiotik mencapai angka 50% dari seluruh kasus yang dilaporkan, sejalan dengan perkembangan antibiotika, perawatan bedah yang baik, serta tindakan yang cepat dan tepat, maka saat ini angka kematian (mortalitas) hanya 8%.
            Kata angina pada Ludwig's angina dihubungkan dengan sensasi tercekik akibat obstruksi saluran nafas secara mendadak. Penyakit ini merupakan infeksi yang berasal dari gigi akibat perjalaran pus dari abses periapikal.
            Gejala dari Ludwig's angina yaitu :
            • sakit dan bengkak pada leher
            • leher menjadi merah
            • demam
            • lemah dan lesu
            • mudah capek
            • kesulitan bernafas
             pasien yang menderita penyakit ini mengeluh bengkak yang jelas dan lunak pada bagian anterior leher, jika dilakukan palpasi tidak terdapat fluktuasi. Bila terjadi penyakit ini maka perlu dilakukan tindakan bedah dengan segera dengan trakeostomi sebagai jalan nafaas buatan. Kemudian jika jalan nafas telah ditangani dapat diberikan antibiotik dan dilakukan incisi pada pus untuk mengurangi tekanan. Dan juga perlu dilakukan perawatan gigi penyebab infeksi (sumber infeksi) baik perawatan endodontik maupun periodontik.
            Kejadian dari phlegmon ini akan menghebat seiring dengan keadaan umum dari penderita, bila penderita mempunyai keadaan umum yang jelek (diabetes dan sebagainya) maka phlegmon akan bergerak ke arah potensial space atau rongga jaringan ikat kendor yang berada di bawahnya, dan hal ini bisa mengakibatkan sepsis atau bakeri meracuni pembuluh darah.

            Perbedaan derajat keasaman (pH) saliva antara pengunyah permen karet yang mengandung xylitol dan sukrosa

            Posted by drg. Asnul Arfani Labels:


            Penyakit periodontal atau yang disebut juga penyakit jaringan pendukung gigi adalah masalah serius dan umum yang dapat menyebabkan hilangnya gigi. Sifat kronis pada penyakit ini dapat menyebabkan kerusakan pada serabut periodontal. Kebersihan rongga mulut yang jelek adalah faktor terpenting yang mempengaruhi tingkat keparahan kerusakan jaringan periodontal. Penyakit ini erat hubungannya dengan plak gigi, yang dibentuk sebagai hasil interaksi yang kompleks antara gigi, lingkungan, dan molekul bakteri, sehingga menyebabkan inflamasi pada gingiva (gusi). 

            Kalkulus merupakan salah satu penyebabdalam penyakit periodontal. Kalkulus adalah plak gigi yang mengalami mineralisasi, oleh karena itu pembentukan kalkulus dimulai dengan adanya akumulasi plak gigi. Cairan ludah (saliva) juga faktor penting dalam pencegahan karies gigi, kelainan periodontal dan gambaran penyakit mulut lainnya. Fungsi cairan ludah salah satunya dapat melindungi permukaan mulut, baik mukosa maupun elemen gigi geligi, yang bekerja karena pengaruh buffer dan pembersihan mekanis. Derajat keasaman (pH) dan kapasitas buffer saliva disebabkan oleh adanya susunan bikarbonat, yang naik seiring dengan kecepatan sekresi saliva. oleh karena itu kapasitas buffer merupakan faktor penting sebagai pengatur pH rongga mulut dan melindungi gigi dari kerusakan. Derajat keasaman (pH) yang rendah adalah lingkungan yang tepat untuk pertumbuhan bakteri yang tahan terhadap asam terutama Streptococcus mutan, karena bakteri tersebut dapat memetabolisme gula dan makanan yang mengandung gula menjadi asam laktat. pH saliva yang tidak dirangsang biasanya agak asam, antara 6,4 sampai 6,9; sedangkan yang dirangsang menunjukkan pH dalam keadaan basa. 
            Permen karet merupakan salah satu makanan yang sangat digemari baik orang dewasa maupun anak-anak. Permen karet selain dapat dibeli dengan harga yang relatif murah juga dapat mengasyikkan saat dimakan. Dalam bidang kedokteran gigi, permen karet sangat berguna karena dapat menstimulasi aliran saliva yang dapat meningkatkan kapasitas buffer sehingga dapat menaikkan pH. 
            Xylitol mempunyai efek menstimulasi daya alir saliva dan menurunkan kolonisasi bakteri mulut. Menurut penelitian, xylitol lebih efektif daripada gula terhadap kesehatan mulut karena xylitol tidak dapat dimetabolisme oleh bakteri dalam pembentukan asam dan mempunyai efek antibakteri, dan juga bila mengkonsumsi xylitol dapat menurunkan jumlah bakeri mulut di dalam plak dan saliva. 
            Berikut ini merupakan gambar alat dan bahan yang saya gunakan untuk penelitian ini :
            Hasil penelitian :
            1. penelitian dilakukan dengan mengukur pH saliva pada 30 orang mahasiswa UGM, yang diberikan 2 kali perlakuan. Hasilnya menunjukkan ada perbedaan pH saliva sebelum dan sesudah pengunyahan. Hasil analisis menunjukkan perbedaan pH saliva sebelum dan sesudah pengunyahan pada kelompok pengunyah permen karet yang mengandung xylitol dan permen karet yang mengandung sukrosa perbedaan yang bermakna.
            2. rerata dan simpangan baku perubahan pH saliva sebelum dan sesudah pengunyahan permen karet yang mengandung xylitol dan yang mengandung gula, menunjukkan perbedaan perubahan pH saliva. Yaitu terjadi penngkatan pH rata-rata 0,2870 untuk permen karet yang mengandung xylitol dan terjadi penurunan  pH rata-rata -0,2480 untuk permen karet yang mengandung sukrosa.
            Pembahasan :
            pH normal perhari adalah 6-7. Hasil penelitian ini menunjukkan pH saliva meningkat pada subjek yang mengunyah permen karet yang mengandung xylitol, sementara pH saliva menurun pada subjek yang mengunyah permen karet yang mengandung sukrosa. Hal ini disebabkan permen karet yang mengandung xylitol tidak dapat difermentasikan oleh bakteri mulut sehingga tidak menghasilkan asam pada saliva, dan kapasitas buffer saliva akan meningkat sehingga pH saliva juga akan meningkat.
            Perubahan penurunan pH saliva pada pengunyahan permen karet yang mengandung sukrosa disebabkan permen karet yang mengandung sukrosa dapat menghasilkan asam pada saliva melalui hasil fermentasi oleh bakteri
            Kesimpulan :
            terdapat perbedaan pH saliva sebelum dan sesudah mengunyah baik pada pengunyah permen karet yang mengandung xylitol dan yang mengandung sukrosa. pH saliva pada pengunyah permen karet yang mengandung xylitol meningkat, sedangkan pengunyah permen karet yang mengandung sukrosa menurun.